Marak Makin Banyak Anak Di Bawah Umur Merokok

Osvobojdenie-fizkulturi.com Suasana sore di area taman stasiun MRT Dukuh atas,sudirman ,jakarta pusat ramai oleh para remaja dari berbagai daerah di pinggiran jakarta seperti citayam, depok,dan bojong gede,kabupaten bogor.fenomena ini lantas viral dengan sebutan citayam fashion week.
sambil nongkrong para ABG (anak baru gede) yang umumnya kami liat dari pinggiran jakarta seperti citayam dan bojong gede tersebut banyak menghisap rokok seperti anak yang saya temukan bernama adel umur 13 tahun remaja perempuan asal depok yang masih berstatus pelajar kelas satu sekolah menengah pertama (SMP) ini, menyatakan dirinya merokok hanya untuk iseng-iseng. uang untuk merokok di dapatkan dari uang yang diberikan orang tua sebagai ongkos bermain.
adel menceritakan ke kami kalau uang yang di kasih orang tuanya buat ongkos bermain tetapi di pakai buat membeli rokok yang kami liat di pinggiran jalan jakarta tidak hanya adel sendiri, masih banyak remaja usia belia lain di area tersebut yang terlihat nongkrong dan berjalan-jalan sambil merekok. jika diamati , memang di sekitar area Taman Stasiun MRT Dukuh Atas,Sudirman, tidak terlihat adanya papan tanda Kawasan Tanpa Rokok (KTR).


hal ini juga dikonfirmasi oleh salah satu petugas Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat yang berjaga disana.
“memang di sini imbauannya bukan untuk tidak merekok ya, karena sulit melarang karena ini area terbuka. tapi kita edukasi dan lakukan razia jika ada sampah atau puntung rokok yang dibuang sembarangan,”ujar Pak Wasis Gunawan, Kepala Seksi Penanganan Peran Serta Masyarakat dan Penataan Hukum Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Pusat, saat ditemui.
Dari informasi yang kami dapatkan dari kepala seksi pencegahan dan pengendalian penyakit (P2P) Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat DR Budi Setiawan menyebut seharusnya fasilitas umum seperti taman dan area transportasi publik merupakan kawasan yang otomatis bebas dari asap rokok.


Menurut Dr Budi, seharusnya belum ada papan KTR, petugas di sana sudah memahami aturan kawasan tanpa rokok
Kita menemui Sekretaris Direktorat Jendral Kesehatan Masyarakat, Kementrian Kesehatan RI, dr Siti Nadia Tarmizi, menyatakan upaya pengendalian rokok membutuhkan dukungan lintas sektor. dengan adanya identifikasi kondisi seperti ini kita berharap dukungan lintas sektor karena penanganan pengendalian rokok tidak semudah itu sehingga membutuhkan dukungan dari bidang kesehatan.

RENCANA SOSIALISASI DAN PENDEKATAN PADA PEROKOK USIA BELIA.

Dr Budi menyatakan pihak Dinkes Jakarta Pusat berencana akan melakukan sosialisasi dan pertemuan dengan berbagai pihak yang terlibat agar aturan kawasan tanpa rokok bisa jelas diterapkan
“info ini harus saya sampaikan ke Puskesmas setempat, pihak Dishub dan MRT, serta Sudin Lingkungan Hidup minggu depan. kami harus berkooordinasi jangan-jangan pengunjung aslinya memang penduduk jakarta sudah paham aturan ini,tapi orang orang dari luar jakarta yang melakukan pelanggaran.
Berkaitan dengan remaja di bawah umur yang merokok di area tersebut ,dr Budi menjelaskan ingin berencana akan melakukan pendekatan sosialisasi agar edukasi bahaya rokok di terapkan dengan tepat.

DARI MANA REMAJA DAPAT AKSES ROKOK?

Jika yg saya telusuri di hasil Global Youth Tobacco Survet (GYTS) tahun 2019, akses dan ketersediaan para perokok remaja ini didapat dari membeli lansung di toko,warung,penjual jalanan,dan kios dengan persentase 76,6 persen.belum nilai persentase 60,6 persen. artinya akses merokok pada remaja usia belia ini terbuka luas dan tindakan pencegahan untuk melarang mereka mendapat akses rokok masih terbilang rendah.
Dokter Budi menegaskan peran penting keluarga untuk mencegah anak-anak mendapatkan akses rokok. Ia juga menambahkan, petugas yang berjaga di area memiliki juga peran untuk mengedukasi anak-anak yang kedapatan merokok.